Kalau sudah begini siapa yang harus di salahkan ? Pihak pertelevisian
yang mengejar rating ? Atau para penikmat nya (masyarakat) yang
cenderung lebih menikmati program kurang mendidik yang berisi obrolan
ngalor ngidul, buka" aib orang, atau malah candaan berbau hinaan atau
bullying, sehingga rating program yang begini lah yang melambung tinggi
dan 'boom' kemudian inilah yang banyak di siarkan.
Jika bicara masalah
program, bukan tak ada program yang baik dan mendidik, bila bicara soal
selera masyarakat, bukan tak ada yang mencari hal positif di televisi.
Tapi kemana itu semua ? Ya, itu tenggelam dan kurang diminati. Bicara
soal minat masyarakat, ada satu lagi yang sangat menarik minat
masyarakat kita. Apa itu ? Sinetron. Sinetron yang sudah sangat berusaha
menyelipkan berbagai pesan baik dalam sepanjang episode nya, namun apa
yang terjadi ? Sepertinya masyarakat kita (mungkin semua manusia) lebih
mudah menangkap hal hal negatif dari suatu kejadian atau peristiwa ,
lebih suka menikmati saat si baik yang selalu di siksa selama ratusan
episode akhirnya terbebas dari belenggu si jahat selama beberapa episode
saja dan si jahat berakhir dengan hukum karma, bila perlu berakhir
nyawa, daripada mengutip pesan bahwa kebaikan pada akhirnya akan menang
dari kejahatan. Atau lebih suka meniru geng motor yang kebut kebutan di
jalan daripada berkumpul dengan sesama pecinta motor melakukan hal
positif, atau lebih suka melihat seorang selingkuhan yang tinggal
menunggu waktu untuk tertangkap basah (di iringi musik yang sungguh
menggugah dan menegangkan) dari pada melihat kabar koruptor yang
kasusnya bagaikan benang kusut (on process). Siapa yang bisa di salahkan
? Tidak ada yang bisa disalahkan.
Kalau dunia pertelevisian kita masih
di tahap ini dan masyarakat masih mempunyai selera tontonan yang seperti
ini ya kita hanya bisa melindungi diri sendiri saja. Eitss, tunggu dulu
ternyata saya salah. Ada hal besar lainnya yang bisa kita lakukan ? Apa
itu ? Yaaa. Kita harus lindungi anak anak kita, adik adik kita para
generasi muda selanjutnya. Jangan kita rusak mental mereka dengan
tontonan tak mendidik itu. Cukup, cukup kita saja yang terkontaminasi,
jangan mereka. Jangan biarkan mereka menonton tayangan tak mendidik,
berikan tontonan layak bagi mereka.
Tontonan yang layak, seperti apa ?
Yang asap rokoknya di sensor ? Yang paha dan dada di sensor ? Yang
adegan mesra di potong ? Yang kalau berbicara 'goblok, bodoh, bajingan'
didalam film di sensor ? Itu bukan tolak ukurnya, bukan sama sekali.
Bahkan film kartun di sensor dan di potong bagian yang dianggap
mengandung adegan kurang baik, padahal anak biasanya tak akan menangkap
sisi negatif film kartun dan cenderung menikmati kelucuan nya saja.
Namun yang layak ditonton anak adalah yang mendidik. Yang tidak
menunjukkan paha dan dada pada acara live dan tentu tak bisa di sensor,
yang tidak memperdengarkan cacian dan bullying yang seringkali di tiru
anak dan di praktek kan pada temannya. Mereka berhak dapat tontonan
mendidik , dan bila kita tidak bisa memenuhi itu setidaknya jangan
cekoki mereka dengan yang tidak mendidik , itu bagaikan menunggu waktu
kehancuran bangsa ini. Mereka masih bisa terhindar , sekarang tergantung
pada kita.
Komentar
Posting Komentar