Langsung ke konten utama

Selera Tontonan Orang Indonesia



Kalau sudah begini siapa yang harus di salahkan ? Pihak pertelevisian yang mengejar rating ? Atau para penikmat nya (masyarakat) yang cenderung lebih menikmati program kurang mendidik yang berisi obrolan ngalor ngidul, buka" aib orang, atau malah candaan berbau hinaan atau bullying, sehingga rating program yang begini lah yang melambung tinggi dan 'boom' kemudian inilah yang banyak di siarkan.
  
Jika bicara masalah program, bukan tak ada program yang baik dan mendidik, bila bicara soal selera masyarakat, bukan tak ada yang mencari hal positif di televisi. Tapi kemana itu semua ? Ya, itu tenggelam dan kurang diminati. Bicara soal minat masyarakat, ada satu lagi yang sangat menarik minat masyarakat kita. Apa itu ? Sinetron. Sinetron yang sudah sangat berusaha menyelipkan berbagai pesan baik dalam sepanjang episode nya, namun apa yang terjadi ? Sepertinya masyarakat kita (mungkin semua manusia) lebih mudah menangkap hal hal negatif dari suatu kejadian atau peristiwa , lebih suka menikmati saat si baik yang selalu di siksa selama ratusan episode akhirnya terbebas dari belenggu si jahat selama beberapa episode saja dan si jahat berakhir dengan hukum karma, bila perlu berakhir nyawa, daripada mengutip pesan bahwa kebaikan pada akhirnya akan menang dari kejahatan. Atau lebih suka meniru geng motor yang kebut kebutan di jalan daripada berkumpul dengan sesama pecinta motor melakukan hal positif, atau lebih suka melihat seorang selingkuhan yang tinggal menunggu waktu untuk tertangkap basah (di iringi musik yang sungguh menggugah dan menegangkan) dari pada melihat kabar koruptor yang kasusnya bagaikan benang kusut (on process). Siapa yang bisa di salahkan ? Tidak ada yang bisa disalahkan.

Kalau dunia pertelevisian kita masih di tahap ini dan masyarakat masih mempunyai selera tontonan yang seperti ini ya kita hanya bisa melindungi diri sendiri saja. Eitss, tunggu dulu ternyata saya salah. Ada hal besar lainnya yang bisa kita lakukan ? Apa itu ? Yaaa. Kita harus lindungi anak anak kita, adik adik kita para generasi muda selanjutnya. Jangan kita rusak mental mereka dengan tontonan tak mendidik itu. Cukup, cukup kita saja yang terkontaminasi, jangan mereka. Jangan biarkan mereka menonton tayangan tak mendidik, berikan tontonan layak bagi mereka.

Tontonan yang layak, seperti apa ? Yang asap rokoknya di sensor ? Yang paha dan dada di sensor ? Yang adegan mesra di potong ? Yang kalau berbicara 'goblok, bodoh, bajingan' didalam film di sensor ? Itu bukan tolak ukurnya, bukan sama sekali. Bahkan film kartun di sensor dan di potong bagian yang dianggap mengandung adegan kurang baik, padahal anak biasanya tak akan menangkap sisi negatif film kartun dan cenderung menikmati kelucuan nya saja. Namun yang layak ditonton anak adalah yang mendidik. Yang tidak menunjukkan paha dan dada pada acara live dan tentu tak bisa di sensor, yang tidak memperdengarkan cacian dan bullying yang seringkali di tiru anak dan di praktek kan pada temannya. Mereka berhak dapat tontonan mendidik , dan bila kita tidak bisa memenuhi itu setidaknya jangan cekoki mereka dengan yang tidak mendidik , itu bagaikan menunggu waktu kehancuran bangsa ini. Mereka masih bisa terhindar , sekarang tergantung pada kita.
 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tumbuh Bebas, Bebas Aturan

Tadi nya aku hanya ingin menjadi tidak rapi, tidak bersih, tidak terlihat terawat sehingga membiarkan rambut sedikit lebih panjang dan berantakan daripada teman sekelas saat SMA lainnya. Masa" menegangkan pun tiba saat razia rambut dimulai. Guru-guru, satpam, bahkan kepala sekolah jadi lebih memperhatikan kerapian rambut para siswa laki-laki. Terbersit beberapa kenangan saat harus merelakan rambut ini berakhir di ujung gunting satpam dan kepala sekolah(beberapa kali). Tapi tentu saja masih terus kubiarkan dia bertumbuh , selain memang ingin aku juga merasa agak kurang mampu membayar uang untuk ongkos pangkas rambut 😂. Ini membuat pergerakan di sekolah tidak sebebas anak anak lain nya, harus lirik kiri kanan lihat keadaan hanya untuk ke kantin saja. Tapi tidak masalah, selama aku masih bisa membiarkan penghias kepala ku ini tumbuh bebas tanpa aturan. Ada satu momen yang paling kuingat tentang rambut dan peraturannya ini. Saat itu hari pertama ujian nasional, wakil kepala seko...

LDR, Siapa Takut?

Hubungan berpacaran jarak jauh atau biasa disebut LDR (Long Distance Relationship) tampaknya semakin popular belakangan ini. Kemajuan teknologi yang begitu pesat sedikit banyaknya membuat LDR ini begitu banyak digandrungi dua insan yang memiliki komitmen untuk berhubungan asmara namun harus terpisah oleh jarak bahkan terkadang oleh perbedaan waktu sekalipun.  Jika berbicara tentang berpacaran jarak jauh sudah pasti kebanyakan yang menjalaninya adalah kawula muda ya guys, walaupun terkadang ada juga orang tua bahkan yang sudah menikah terpaksa harus “berpacaran” jarak jauh juga nih. Nah di tulisan kali ini penulis mau berbagi sedikit nih serba-serbi tentang LDR-an yang tentunya sedikit banyaknya pasti berbeda sama yang pacaran “konvensional”. Jadi modal tanya-tanya ke beberapa teman-teman yang lagi jalanin LDR, penulis dapet beberapa poin yang cukup menarik untuk dipaparkan di tulisan ini.Yang pertama dan yang nggak pernah lupa diucapin sama mereka apa ya kira-k...