Langsung ke konten utama

Tumbuh Bebas, Bebas Aturan



Tadi nya aku hanya ingin menjadi tidak rapi, tidak bersih, tidak terlihat terawat sehingga membiarkan rambut sedikit lebih panjang dan berantakan daripada teman sekelas saat SMA lainnya.


Masa" menegangkan pun tiba saat razia rambut dimulai. Guru-guru, satpam, bahkan kepala sekolah jadi lebih memperhatikan kerapian rambut para siswa laki-laki. Terbersit beberapa kenangan saat harus merelakan rambut ini berakhir di ujung gunting satpam dan kepala sekolah(beberapa kali). Tapi tentu saja masih terus kubiarkan dia bertumbuh , selain memang ingin aku juga merasa agak kurang mampu membayar uang untuk ongkos pangkas rambut 😂. Ini membuat pergerakan di sekolah tidak sebebas anak anak lain nya, harus lirik kiri kanan lihat keadaan hanya untuk ke kantin saja. Tapi tidak masalah, selama aku masih bisa membiarkan penghias kepala ku ini tumbuh bebas tanpa aturan.

Ada satu momen yang paling kuingat tentang rambut dan peraturannya ini. Saat itu hari pertama ujian nasional, wakil kepala sekolah yang notabene salah satu guru yg cukup sering menegur siswa karena melanggar aturan, menegurku (yang saat itu lengah tak menyadari keadaannya sehingga tak sempat menghindar) masalah rambut. Dia bahkan mengancam tak akan mengizinkan aku ikut ujian nasional hari ke2 jika aku tak merapikan rambutku. Aku sempat kaget juga saat itu, dan yang kulakukan hanya menunduk sambil sesekali mengangguk. Namun kemudian pikiran jernih ku datang dan mengatakan bahwa tak mungkin karena masalah ini aku tak bisa ikut ujian. Itu pastinya tidak baik untuk nama sekolah. Aku putuskan tidak merubah rambutku sama sekali dan hanya akan meningkatkan kewaspadaan ku akan kehadiran guru satu itu keesokan harinya agar dia tak melihatku lagi. Dan ya, aku masih tetap bisa selamat dan mengikuti ujian dengan baik.

Itu saat SMA , dimana rambut ku harus bertumbuh di himpit peraturan 😂. Tapi kemudian perjalanan perjalanan rambutku berikutnya yang sudah lebih bebas aturan beberapa kali harus terhenti oleh beberapa hal (beberapa kali). Mulai dari niat sendiri (ya, kadang berhadapan dengan kesabaran diri sendiri), keperluan peraturan(lagi) ospek, dan beberapa kali karena beberapa kegiatan yang kuambil dan mengharuskan untuk tampil dengan rambut pendek dan rapi. Sekarang tampak nya aku akan memprioritaskan pertumbuhan rambut ku sebebas bebasnya setelah beberapa tahun terkekang berbagai hal. Sekarang aku bukan cuma ingin agar tampil tak rapi dan berantakan , tapi membiarkan rambut bertumbuh seperti ini tampaknya sudah menjadi lifestyle. Berekspresi bebas tapi tetap positif tampaknya akan terus kulakukan dalam beberapa tahun mendatang.



Dunia baru, Agustus 2018

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Selera Tontonan Orang Indonesia

Kalau sudah begini siapa yang harus di salahkan ? Pihak pertelevisian yang mengejar rating ? Atau para penikmat nya (masyarakat) yang cenderung lebih menikmati program kurang mendidik yang berisi obrolan ngalor ngidul, buka" aib orang, atau malah candaan berbau hinaan atau bullying, sehingga rating program yang begini lah yang melambung tinggi dan 'boom' kemudian inilah yang banyak di siarkan.    Jika bicara masalah program, bukan tak ada program yang baik dan mendidik, bila bicara soal selera masyarakat, bukan tak ada yang mencari hal positif di televisi. Tapi kemana itu semua ? Ya, itu tenggelam dan kurang diminati. Bicara soal minat masyarakat, ada satu lagi yang sangat menarik minat masyarakat kita. Apa itu ? Sinetron. Sinetron yang sudah sangat berusaha menyelipkan berbagai pesan baik dalam sepanjang episode nya, namun apa yang terjadi ? Sepertinya masyarakat kita (mungkin semua manusia) lebih mudah menangkap hal hal negatif dari suatu kejadian atau peri...

LDR, Siapa Takut?

Hubungan berpacaran jarak jauh atau biasa disebut LDR (Long Distance Relationship) tampaknya semakin popular belakangan ini. Kemajuan teknologi yang begitu pesat sedikit banyaknya membuat LDR ini begitu banyak digandrungi dua insan yang memiliki komitmen untuk berhubungan asmara namun harus terpisah oleh jarak bahkan terkadang oleh perbedaan waktu sekalipun.  Jika berbicara tentang berpacaran jarak jauh sudah pasti kebanyakan yang menjalaninya adalah kawula muda ya guys, walaupun terkadang ada juga orang tua bahkan yang sudah menikah terpaksa harus “berpacaran” jarak jauh juga nih. Nah di tulisan kali ini penulis mau berbagi sedikit nih serba-serbi tentang LDR-an yang tentunya sedikit banyaknya pasti berbeda sama yang pacaran “konvensional”. Jadi modal tanya-tanya ke beberapa teman-teman yang lagi jalanin LDR, penulis dapet beberapa poin yang cukup menarik untuk dipaparkan di tulisan ini.Yang pertama dan yang nggak pernah lupa diucapin sama mereka apa ya kira-k...