
Ayah/ Bapak L.Manik
26 Agustus 2021

Aku sama sekali tidak pernah kepikiran buat nambah list tanggal yang harus kuingat. Sebenarnya aku juga bukan pengingat yang baik, itu sebabnya beberapa kali aku lupa tanggal (yang oleh diriku sendiri dikategorikan sebagai tanggal) penting. Jangankan tanggal, kadang sekedar membawa handuk ke kamar mandi saja aku lupa. Jadi jangan heran kalau aku terkadang melupakan hari jadi kawan-kawanku atau hari penting lainnya (ini disclaimer-nya mulai masuk secara halus nih). Oh iya, ini berkaitan dengan tanggal hari ini tentunya, 26 Agustus.
Hari ini, tepat satu tahun silam Ayahku meninggal dunia, "memaksaku" untuk memperpanjang list tanggal yang sudah seharusnya kuingat. Ayah "take-off" dari salah satu rumah sakit swasta di kota kami, Pematangsiantar. Berita ini dengan cepat sampai ke telingaku yang saat itu berada di kota Manado, tempatku mengejar sebuah gelar sarjana. Kakak ku menelponku, walaupun yang kudengar hanya isakan, atau lebih tepatnya tangisan histeris dirinya yang sedang on the way ke rumah sakit, aku sudah bisa mengerti situasinya. Mengerti? Maaf, mungkin aku salah memilih diksi, aku hanya tahu situasi nya saat itu, belum mengerti sama sekali.
Biarku ingat lagi, suasana dan kondisi saat itu masih sangat jelas dalam bayanganku. Izinkan aku menarik mundur cerita ini beberapa jam sebelum aku menerima "telpon tangisan histeris" kakakku diatas. Ya, telpon yang satu itu memang aku beri tanda kutip karena dalam waktu berdekatan saat itu, kami beberapa kali berhubungan via telpon. Mulai dari pertama ayah dibawa ke rumah sakit waktu sore hari, aku selalu diberitahu perkembangan nya. Malam harinya, sekitar pukul 22.30 WIB atau 23.30 WITA kami anak-anaknya, di lengkapi oleh mamak (panggilan kami untuk ibu), melakukan panggilan telpon konferensi untuk mendiskusikan beberapa hal penting tentang kondisi ayah, sembari saling menguatkan satu sama lain.
Percakapan itu berlangsung cukup lama, karena kuingat aku harus keluar kamar cukup lama dan meninggalkan kawan-kawanku yang sedang bermain gim sepakbola ternama Pro Evolution Soccer 2020 di kamarku. Saat itu aku memang sedang bersama kawan-kawanku, yang entah karena ada angin apa memilih ngumpul di kamarku, padahal bisanya kami ngumpul di kamar kawanku yang satunya (yang masih satu kos-kosan denganku). Setelah selesai berbincang di telpon aku kembali ke kamar dan bermain beberapa pertandingan bersama kawanku, sampai akhirnya mereka memutuskan untuk tidur, masih dikamarku. Aku memutuskan bermain sendiri melawan "com" karena aku merasa tidak mengantuk pada malam, menuju pagi itu.
Sekitar pukul 05.30 aku mulai mengantuk dan memutuskan untuk menyudahi bermain game dan mencoba untuk tidur. Selang 2-3 jam beberapa kawanku sudah terbangun dan menimbulkan suara yang juga membangunkan ku. Seperti kebanyakan "pesta menginap" lainnya kami tidak langsung beranjak dari tempat tidur, masih ngobrol 'ngalor ngidul' pada posisi masing-masing. Kira-kira pukul 10.00 WITA hand phone ku berdering, aku bergegas keluar kamar, mengangkat telpon dan mendengar kabar bahwa ayah sudah tidak sadarkan diri di rumah sakit. Aku tidak panik saat itu, karena yang ku tahu jika aku panik itu sama sekali tidak membantu, malah hanya semakin menambah kepanikan kakak atau ibuku. Aku berusaha menenangkan mereka via telpon, lalu setelah selesai telponan aku kembali ke kamar menemui kawan-kawanku.
Satu jam kemudian kembali ada panggilan masuk. Ya, inilah "telpon tangisan histeris" kakakku yang kumaksud sebelumnya. Sebelumnya aku menuliskan sudah "mengerti" situasinya saat mendengar kakakku menelepon dalam keadaan menangis, tapi tampaknya aku hanya "tahu". Aku hanya tahu bahwa ayah sudah meninggal, aku belum bisa mencerna informasi secara utuh saat itu. Hal yang pertama kulakukan?
Saat itu aku terhubung dengan keluarga ku dimana kami semua sedang berusaha memproses dalam pikiran kami bahwa ayah meninggal. Dalam konteks waktu : saat itu, aku memutuskan akan menghubungi orang terdekat denganku di Manado yang tentunya bukan keluarga ku, karena aku tidak mempunyai keluarga disana (dalam arti kata harfiah, karena jika dalam penafsiranku berdasarkan kedekatan, aku punya banyak "keluarga" di Manado). Aku menghubungi pacar ku via WhatsApp, yang saat itu berada di kota Tomohon yang berjarak sekitar 1 jam dari Manado, memberitahu berita kematian ayah. Tidak lama dia membalas pesanku, mengatakan akan segera datang ke tempat kos ku.
Setelah itu aku kembali masuk kamar, sambil setengah tertawa (aku lupa ekspresi persis ku, mungkin kawan-kawanku yang mengingat nya) minta tolong kawanku untuk memasak nasi dengan dalih aku lapar. Sambil melanjutkan percakapan, aku memberitahu tentang ayah yang meninggal. Sebagian dari mereka ada yang terkejut atau mungkin bingung harus berekspresi seperti apa. Tak ada bedanya denganku, aku bingung harus bagaimana, berekspresi seperti apa. Tampaknya aku hanya tahu ayah meninggal, belum benar-benar mengerti bahwa dia sudah tiada. Aku bahkan masih harus ke mesin ATM untuk mengambil uang yang akan kupergunakan dalam perjalanan pulangku ke rumah dan juga untuk membeli beberapa makanan dalam keadaan "masih bingung".
Setelah selesai makan bersama kawan-kawan ku, aku sudah mulai bertenaga, namun ternyata otakku masih belum sanggup memproses informasi yang ada saat itu, aku masih saja seperti orang bingung. Tak lama, pacarku datang, aku meminta kawan-kawan ku untuk memberikan waktu kami berdua. Entah benar atau tidak, tapi aku merasa tak pernah bisa meluapkan emosi sedih saat suasana ramai, terutama saat berkumpul bersama kawan.
Saat itu baru aku mulai bisa memproses informasi, baru aku perlahan merasa bersedih. Mungkin emosi sedihku baru mulai keluar saat otakku mengirim sinyal aman untuk meluapkannya. Aku tidak tahu harus malu atau tidak mengatakan nya, tapi saat itu aku merasa aman untuk menangis di depan kekasihku, karena jujur saja aku tidak tahu bagaimana caranya meluapkan kesedihan ku dalam waktu dan kondisi seperti saat itu. Itu pertama kalinya bagiku, baik itu kehilangan orang tua, ataupun menangis bahkan sesunggukan didepan pacar, dua duanya terjadi sekaligus. Aku tidak tahu apa yang dirasakan pacarku, mungkin dia juga bingung harus berbuat apa, tapi yang ku tahu saat itu dia berhasil mendampingiku melewati hari (yang bisa kukatakan) terberat dalam hidupku sampai saat ini.
Setelah itu tentu saja aku harus bergegas menyelesaikan segala urusan untuk penerbangan pulang ke rumah. Kondisi pandemi dan segala hal yang berkaitan dengan Covid19 memaksaku berusaha sedikit lebih keras untuk bisa pulang ke rumah. Aku bersyukur punya orang-orang terdekatku saat itu. Teman-temanku ada untukku, baik yang secara langsung disampingku, atau yang membawaku dalam doa karena tidak bisa menemaniku secara langsung. Yang pastinya bila mereka membaca tulisan ini pasti merek menganggap ku sangat melankolis karena telah menulis ini. Dan tentunya kekasih ku, yang bisa kukatakan merupakan support system terkuatku saat itu.
Waktu berjalan pelan sekali, hari berganti, melewati tanggal 26 Agustus. Namun aku masih berada di Manado, kota yang sampai detik ini masih bisa kurasakan suasananya hanya dengan memejamkan mata. Jadwal penerbangan ku keesokan harinya, 27 Agustus 2020, bertepatan dengan tanggal wisuda ku di Universitas Sam Ratulangi tercinta.
Komentar
Posting Komentar