| Foto ini diambil di Kemang, tak jauh dari tempat yang ada di tulisan dibawah |
Misalnya pertemuan malam itu di Cilandak, dengan seorang bapak tukang parkir yang kutafsir berumur 60 tahunan. Hujan baru saja berhenti dan masih menyisakan rintikan gerimis. Terhenti laju motorku oleh mobil silver yang keluar dari parkiran sebuah restoran, memasuki lajur jalan yang hendak kulalui. Setelah mobil itu melaju, terlihat seorang bapak tukang parkir berada di tengah jalan baru selesai melakukan tugasnya dengan mobil silver tadi, memakai payung. Celana berbahan katun panjang yang ia gunakan digulung sebatas tulang kering dan kakinya dialasi sandal jepit. Dengan sangat sopan dia sedikit menundukkan kepala dan membuat gestur meminta maaf dengan tangan kanan nya kepada semua pengendara yang perjalanannya harus terhenti sebentar akibat mobil yang baru saja ia arahkan keluar dari parkiran restoran ke jalan raya.
Atau saat bertemu seorang bapak paruh baya, siang itu di karet pedurenan. Beliau memasuki halaman salah satu ruko, menoleh kedalam tong sampah dan memilah kalau kalau ada botol plastik yang bisa dia ambil dan jual ke pengepul barang bekas. Benar saja, ada 2 botol plastik yang dia dapat dan masukkan kedalam karung yang di panggulnya. Kemudian dia berlalu, mencari botol plastik di tempat lainnya, mungkin.
Itu tidak mudah sama sekali, aku pernah mencobanya, dulu. Aku pernah memilah kedalam tempat sampah, mencari biji durian yang sudah dibuang orang lain. Aku ingat bagaimana malunya aku dulu, sampai aku menutupi wajahku dengan masker, padahal dulu belum ada pandemi Covid. Belum lagi aroma tempat sampah, membuat serasa tak ingin melanjutkan aktivitas itu, yang walaupun karena suatu tujuan tetap kulanjutkan walau dengan banyak keterpaksaan. Berbeda denganku, yang kulihat bapak paruh baya tadi melakukannya dengan luwes, tanpa ekspresi yang berlebihan. Ya, tampaknya dia sudah terbiasa. Bahkan mungkin itu adalah pekerjaannya, untuk hidupnya.
Kutarik ingatan ku pada beberapa tahun kebelakang, waktu itu di pertigaan Batu Kota, Kleak, Manado. Motorku melaju lumayan kencang sebab ada urusan yang harus segera kuselesaikan, padahal beberapa detik lagi ada pertigaan yang ku tahu biasanya cukup ramai dengan tanjakan terjal. Terlihat motor melaju dari arah berlawanan dan menyalakan lampu sign kanan, sedangkan aku ingin terus lurus kedepan. Aku sedikit ragu, harus terus melaju atau membiarkan motor yang ingin berbelok ke kanan itu duluan.
Wajarnya aku yang mengalah, karena jalanku yang menurun lebih mudah dari jalannya yang akan menanjak tajam, tapi akan sedikit mengeluarkan usaha ekstra untuk mengerem motorku dalam kondisi kecepatan seperti itu. Sesaat kemudian ternyata bapak yang mengendarai motor di depanku itu tersenyum lalu mengangguk kan kepala tanda memberiku kesempatan untuk lewat duluan. Akhirnya tanpa ragu kulanjutkan perjalanan ku, disertai anggukan kepala, senyuman dan bunyi klakson tanda terima kasihku pada bapak tersebut. Mungkin ditahun itu, bunyi klakson itu adalah yang pertama kali kukeluarkan dari motor ku (seingatku itu sekitar bulan Maret) karena aku termasuk orang yang enggan menggunakan klakson motor jika tidak dalam situasi urgent. Dan entah kenapa aku membunyikan klakson ku secara spontan saat itu, apa mungkin menurut alam bawah sadar ku berterimakasih pada orang yang sudah mau memberi kita waktu untuk jalan lebih dulu adalah sesuatu yang urgent?
Kulompati waktu di pikiranku dengan rentang yang tak tentu, karena yang berikut ini justru terjadi beberapa hari yang lalu. Pagi itu di Kemang, cuaca matahari sudah cukup terik walau masih sekitar pukul sembilan. Aku mendorong troli yang berisi sampah yang akan kubuang, didalamnya juga termasuk beberapa kardus bekas. Temanku berpesan, katanya kardusnya jangan dibuang, ada orang yang butuh kardus itu di rumah sekitar situ dan sudah menunggu dibawah untuk mengambil nya. Ya, jalan menuju tempat pembuangan sampah memang agak menurun dan aku sudah mengantisipasi kalau-kalau ada orang yang menghampiri ku untuk mengambil kardus bekas itu, karena aku belum tau siapa orang yang akan mengambilnya. Namun yang tak kusangka adalah reaksi orang tersebut, saat aku baru mulai berjalan turun dengan troli, dia berteriak dari bawah sambil sedikit melompat dan melambai-lambaikan tangannya. Lalu kemudian berlari menghampiri ku, ekspresi nya begitu riang. Mungkin bila harus menganalogikan, akan ku sandingkan dengan anak kecil yang kegirangan melihat orangtuanya pulang membawa balon atau makanan/mainan kesukaannya. Aku baru tau, kardus bekas bisa membawa kegembiraan sebesar itu?
Sebenarnya perjalanan ku masih banyak bertemu perjalanan orang lain, bahkan beberapa bukan cuma bertemu tapi juga beiringan sampai sekarang. Tapi akan terlalu panjang bila kuceritakan disini. Mungkin lain kali, dilain tulisan atau di sebuah obrolan di salah satu pertemuan kita akan kuceritakan. Sampai kita bertemu, semoga kau sehat selalu dan tahu bahwa aku masih memperhatikan mu, entah kau temanku, saudaraku, kenalan ku.

Komentar
Posting Komentar